Foto Dosen
SISTER Verified

Nova Ari Pangesti, S.Kep,.Ns,.M.Kep.

NIDN: 0629118801, Homebase: Prodi S1 Keperawatan, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Pemkab Purworejo

Catatan Tri Dharma

Selasa, 18 Agustus 2026

Fenomena Fatherless pada Remaja di Purworejo: Dampak dan Solusinya

Oleh: Nova Ari Pangesti, M.Kep

Fenomena "Fatherless" atau ketiadaan peran ayah belakangan ini menjadi perhatian serius di berbagai daerah di Indonesia, tidak terkecuali di Kabupaten Purworejo. Meskipun secara administratif seorang anak mungkin masih memiliki ayah yang hidup, namun secara psikologis mereka kehilangan figur tersebut dalam proses tumbuh kembangnya.

Apa Itu Fenomena Fatherless?

Fatherless bukan hanya merujuk pada anak yatim yang ditinggal wafat oleh ayahnya. Dalam konteks psikologi sosial, fatherless (atau sering disebut father hunger) adalah kondisi di mana seorang anak kehilangan kehadiran psikis dan emosional ayah. Ayah mungkin ada di rumah, namun ia tidak terlibat dalam pengasuhan, tidak menjalin komunikasi yang hangat, atau terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Di Kabupaten Purworejo, fenomena ini mulai menunjukkan pola yang unik seiring dengan perubahan sosial dan ekonomi masyarakatnya.

Mengapa Fenomena Ini Terjadi di Purworejo?

Terdapat beberapa faktor spesifik yang melatarbelakangi tingginya risiko fatherless di wilayah Purworejo:

Budaya Merantau: Sebagai daerah yang terletak di jalur selatan Jawa, banyak kepala keluarga di Purworejo yang memilih merantau ke kota besar seperti Jakarta atau ke luar negeri demi mencukupi kebutuhan ekonomi. Jarak fisik yang jauh sering kali memutus kedekatan emosional antara ayah dan anak.

Stigma "Ayah Pencari Nafkah Saja": Masih kuatnya pandangan tradisional bahwa tugas ayah hanyalah mencari uang (segi ekonomi), sementara urusan mendidik dan mengasuh sepenuhnya adalah tugas ibu.

Kurangnya Literasi Parenting: Banyak orang tua di daerah belum memahami bahwa kehadiran ayah sangat krusial bagi perkembangan logika dan kemandirian remaja.

Dampak Fatherless bagi Remaja di Purworejo

Remaja yang tumbuh tanpa figur ayah yang kuat cenderung mengalami berbagai hambatan dalam fase transisinya menuju kedewasaan:

1. Gangguan Kesehatan Mental

Remaja sering merasa kesepian, memiliki harga diri (low self-esteem) yang rendah, dan rentan mengalami kecemasan atau depresi karena merasa tidak memiliki pelindung dan pemberi arah yang stabil.

2. Penurunan Prestasi Akademik

Figur ayah biasanya memberikan dorongan kedisiplinan dan pencapaian. Tanpa pengawasan ayah, motivasi belajar remaja di sekolah sering kali menurun, yang berpotensi meningkatkan angka putus sekolah.

3. Risiko Perilaku Menyimpang

Data sosial menunjukkan bahwa remaja tanpa kehadiran ayah lebih rentan terjerumus ke dalam pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, hingga tawuran pelajar. Di Purworejo, pengawasan yang lemah dari figur otoritas laki-laki di rumah membuat remaja mencari pengakuan di luar lingkungan keluarga yang terkadang negatif.

4. Kesulitan Membangun Identitas Diri

Bagi remaja laki-laki, ayah adalah model peran (role model) untuk menjadi pria dewasa yang bertanggung jawab. Bagi remaja perempuan, ayah adalah standar pertama dalam memahami hubungan lawan jenis yang sehat.


Langkah Mitigasi: Membangun Kembali Kedekatan Ayah dan Anak

Untuk mengatasi fenomena ini di Kabupaten Purworejo, diperlukan langkah kolektif dari berbagai pihak:

1. Optimalisasi Komunikasi (Bagi Ayah yang Merantau): Di era digital, jarak bukan lagi penghalang utama. Ayah yang bekerja di luar kota harus meluangkan waktu secara rutin untuk melakukan video call dan terlibat aktif menanyakan keseharian anak, bukan sekadar menanyakan nilai sekolah.

2. Edukasi Parenting di Tingkat Desa: Pemerintah Kabupaten Purworejo melalui dinas terkait perlu memperbanyak sosialisasi mengenai pentingnya peran ayah dalam forum-forum warga atau pengajian.

3. Quality Time, Bukan Quantity Time: Saat berada di rumah (saat libur atau akhir pekan), ayah harus hadir sepenuhnya secara mental. Meletakkan gawai dan mendengarkan keluh kesah remaja adalah langkah awal yang sangat berarti.

Kesimpulan

Fenomena fatherless di Purworejo adalah "ancaman sunyi" yang dapat menghambat terciptanya generasi emas di masa depan. Membangun kedekatan antara ayah dan anak remaja bukan sekadar tentang tinggal satu atap, melainkan tentang membangun jembatan emosional dan rasa percaya.

Artikel Terkait

Hasil Karya Produk Digital
Home TriDharma Produk